Kredit Mikro: Ciptakan Peluang, Perangi Kemiskinan

Kredit mikro sebenarnya bukanlah konsep baru di bidang ekonomi. Konsep ini berawal dari Grameen Bank, yang dirintis oleh Professor Muhammad Yunus di tahun 70′an, yang memberikan pinjaman kecil tanpa jaminan/agunan kepada kaum paling miskin di Bangladesh. Tidaklah mengherankan bila mayoritas peminjamnya pada saat itu adalah wanita (sekitar 95%), yang umumnya tidak memiliki pemasukan tetap yang memadai serta menghadapi banyak keterbatasan untuk mengajukan pinjaman melalui jalur bank atau institusi finansial konvensional. Dewasa ini, bentuk-bentuk kredit mikro sangatlah beragam, seperti yang diulas di situs Grameen Bank. Terlepas dari bentuk operasinya, secara umum yang dimaksud dengan kredit mikro adalah:

program-program pemberian pinjaman kecil kepada orang-orang yang sangat miskin, untuk memulai wirausaha yang mendatangkan penghasilan, memungkinkan mereka dan keluarganya untuk hidup lebih sejahtera.

Dilandasi Solidaritas & Kepercayaan Terhadap Sesama Manusia
Prinsip utama yang melandasi sebuah lembaga kredit mikro (MFI, Micro Finance Institution) idealnya adalah solidaritas terhadap sesama manusia, yang karena situasi terpuruk di jurang kemiskinan. Berikutnya adalah kepercayaan bahwa mereka yang paling miskin, pengangguran, buta huruf, atau cacat pun memiliki keterampilan dan kreativitas yang belum tergali secara optimal. Karena dilandasi prinsip-prinsip inilah, maka operasi kredit mikro juga idealnya berbeda dengan sistem pinjaman bank atau institusi finansial konvensional lainnya.

Pada sistem pinjaman bank, setelah mempunyai rencana bisnis yang matang, pemohon kredit datang sendiri ke bank untuk mengajukan pinjaman. Apabila rencana bisnis tersebut dinilai layak untuk didukung, bank akan meminta pemohon kredit memberikan jaminan, yaitu properti yang bisa disita jika pemohon tidak sanggup membayar cicilan/angsuran.

Sebaliknya pada sistem kredit mikro, staf lembaga kredit mikrolah yang mendatangi pemukiman warga miskin, yang umumnya tidak pernah mendengar tentang kredit mikro dan bahkan mungkin tidak pernah mempunyai ide untuk berwirausaha. Staf lembaga kredit mikro akan berusaha menjelaskan konsep kredit mikro secara gamblang. Apabila ada warga yang tertarik untuk menjadi nasabah, maka lembaga kredit mikro akan mempertimbangkan besarnya pinjaman dan cara pengangsuran berdasarkan situasi dan rencana wirausaha mereka. Pinjaman akan diberikan, umumnya kepada pihak kelompok dan bukan ke perorangan, dengan bunga jauh yang lebih rendah dibandingkan bunga bank dan tanpa perlu jaminan.

Tetapi… Bukan Kegiatan Amal Lho
Walau syaratnya terdengar lunak, kredit mikro pada prinsipnya bukanlah kegiatan amal. Memberi donasi, menyumbang barang-barang bekas memang pantas untuk para korban bencana. Namun, kegiatan amal justru akan melanggengkan, bukan memberantas kemiskinan. Kok bisa? Karena dengan terus-menerus menerima bantuan, kaum miskin akan menjadi sangat tergantung dan tidak punya inisiatif sendiri untuk mandiri.

Maka, seorang peminjam kredit mikro juga punya kewajiban untuk mensukseskan wirausahanya dan tepat waktu membayar angsuran ke lembaga kredit mikro yang memberi pinjaman. Walau resiko gagal tetap ada, lembaga kredit mikro umumnya siap mengantisipasi hal ini (akan dibahas di tulisan lainnya). Kesuksesan usaha para peminjam adalah merupakan tujuan lembaga itu juga. Karena, jika usaha tersebut merugi, tidak ada jaminan yang bisa disita dari para peminjam yang notabene adalah orang-orang sangat miskin. Sedangkan lembaga kredit mikro juga perlu mendapat laba untuk melanjutkan dan mengembangkan operasinya. Maka, keduanya ada di perahu yang sama, dan punya kepentingan bersama untuk meraih sukses.

Membina Sumber Daya Manusia Lewat Wirausaha
Ah, benarkah ada peluang untuk membina SDM lewat kredit mikro?
Dengan prinsip kerja yang berdasarkan solidaritas & kepercayaan, paling tidak semua pihak yang terlibat dalam kredit mikro, baik para peminjam maupun lembaga-lembaga MFI, diingatkan bahwa itulah nilai-nilai yang perlu dikembangkan sebagai manusia. Bukan memeras manusia lain, bukan merendahkan martabat manusia lain.

Banyak peluang pengembangan SDM yang digali oleh lembaga kredit mikro melalui operasi mereka di lapangan. Misalnya, dengan sistem memberikan pinjaman kelompok, maka terciptalah kompetisi sehat antara para wirausahawan dan antar kelompok. Mereka bisa saling menjaga dan membantu satu sama lain, dan termotivasi untuk maju bersama kelompoknya. Beberapa lembaga juga mendidik para nasabahnya untuk menabung dan mengatur keuangan mereka dengan bijaksana. Dan bisa dibayangkan, melalui kewirausahaan, para peminjam kredit mikro ini juga banyak mengasah ketrampilan, disiplin dan kerja keras dalam menjalankan usaha. Mentalitas teguh ini akan menjadi teladan bagi anak-anak mereka, yang kelak memiliki masa depan lebih baik seiring dengan peningkatan taraf hidup mereka.

Bisa disimpulkan kredit mikro, jika diaplikasikan sesuai dengan prinsip-prinsipnya, dapat berperan besar memerangi kemiskinan. Namun, tentu saja realitas tidak selalu semanis madu. Tulisan berikutnya akan membahas kendala-kendala yang perlu diperhatikan dalam penerapan kredit mikro di lapangan.

Kredit Mikro, Kewirausahaan, dan Ekonomi

Jika dunia diibaratkan roda yang berputar, maka ekonomi adalah motornya dan uang adalah pelumasnya. Semakin maju taraf hidup dan budaya kita, semakin kompleks pula kehidupan kita, dan semakin kencang roda tersebut berputar. Dibandingkan generasi orang tua kita, sepertinya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kebutuhan kita jauh lebih beragam dan terkadang berlebihan. Mulai dari hal yang relatif materialistis: smartphone, tablet komputer dan teknologi-teknologi terbaru lainnya, kebutuhan rutin menyambangi pusat kebugaran atau pusat perbelanjaan,… sampai kebutuhan intelektual dan budaya seperti: belajar bahasa asing/dansa/musik, menyaksikan konser, mengunjungi teater atau bioskop, koleksi komik… dan lain sebagainya.

Sebagai konsumen yang bertanggungjawab (amin), kita berperan besar dalam menggerakkan ekonomi. Dengan membeli dan memakai berbagai macam produk dan jasa yang disediakan oleh para produsen, yang pada akhirnya menyediakan lapangan kerja bagi kita juga. Beruntung, kita yang sedang baca blog ini, bisa hidup cukup nyaman. Paling tidak kita punya akses internet, berkesempatan untuk menimba ilmu, menjaring pengetahuan, dan punya modal pendidikan untuk memilih profesi yang layak. Tapi… tunggu dulu, banyak juga orang-orang yang terjepit dalam perputaran roda ekonomi yang semakin kencang ini. Sebagian menyerah dan kehilangan arah dengan menjadi pengemis, atau lebih parah lagi, terlibat kriminalitas. Di lain pihak, banyak diantara mereka yang dengan kerja kerasnya menggerakkan ekonomi dari bawah: kuli-kuli yang membangun shopping mal yang sering kita kunjungi, buruh-buruh pabrik yang membuat barang-barang yang kita pakai, atau tukang sampah yang membersihkan jalanan yang kita lalui. Kehidupan mereka serba keras, terkadang pilihan mereka hanya antara makan atau tidak makan. Jika setiap hari mereka harus bergulat dengan nasib demi sesuap nasi, pilihan apakah yang mereka punya? Pilihan apakah yang bisa mereka sediakan untuk anak-anak mereka?

Sebuah Kisah Kemiskinan Kronis
Ada banyak kisah dimana seorang tukang becak tetap menjadi tukang becak sampai dia terlalu renta dan lemah untuk melakukan pekerjaannya. Kemudian dia hanya bisa berharap bahwa anak-anaknya akan menyokong biaya hidupnya nanti di hari tua. Sang anak, yang kemungkinan besar tidak berhasil mengenyam pendidikan layak, harus menanggung nafkah keluarganya sendiri ditambah orang tuanya. Istrinya terpaksa turun tangan menjadi buruh cuci; anak-anak mereka kurang diperhatikan, dan terancam putus sekolah demi membantu orang tua mereka. Maka merekapun bekerja keras, tanpa ada ruang untuk “bernapas”, tanpa sanggup mencari jalan keluar tanpa mempertaruhkan pendapatannya yang sekarang, tanpa strategi untuk menggapai mimpi-mimpi mereka akan masa depan yang lebih baik. Dan cerita ini mungkin akan berlanjut ke generasi berikutnya. Haruskah jalan hidup mereka seperti itu? Seandainya mereka punya wawasan lebih luas, bisakah mereka menggapai lebih tinggi lewat kerja keras mereka?

Coba bayangkan, jika ada seseorang mendatangi kaum miskin ini, mendengarkan kisah perjuangan hidup mereka, dan bertekad membantu mereka keluar dari kemiskinan. Bagaimana caranya? Apakah dengan menghibahkan barang-barang bekas? Memberi sedekah dalam rangka perayaan hari besar?  Atau dengan sesekali memberi uang supaya anak-anak mereka bisa membayar uang sekolah? Bukan, bukan, dan bukan. Memberi sumbangan, walaupun dilakukan terus-terusan, tidak akan membantu orang-orang miskin untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Seperti kata pepatah, dengan memberi ikan, mereka bisa hidup hanya sehari. Tetapi.. dengan memberi kail pancing dan mengajari mereka memancing, mereka bisa selangkah demi selangkah mencapai kehidupan yang lebih mapan lewat kerja keras mereka sendiri.

Mengajari Memancing, Bukan Memberi Ikan
Dengan membuka peluang bagi mereka untuk memulai usaha wiraswasta kecil-kecilan, mereka tahu mereka bisa meraih jalan keluar dari kemiskinan kronis. 

Dengan menghubungkan mereka dengan pihak-pihak yang bisa mendukung pendanaan, mereka menyadari bahwa bahwa mereka tidak berjuang sendirian.

Dengan membimbing mereka dalam merencanakan dan menjalankan usaha mereka, mereka bisa meraih sukses dengan menuangkan segenap ketrampilan dan kerja keras mereka.

Kredit mikro bekerja dengan konsep seperti ini. Orang-orang paling miskin, yang tidak mampu menjamah sistem pinjaman bank, berkesempatan memperoleh pinjaman untuk memulai usaha sendiri sesuai kemampuan dan ketrampilan mereka. Tujuannya adalah supaya mereka bisa perlahan-lahan membangun penghasilan yang layak dan berdikari tanpa terjerat hutang. Anak-anak mereka, akan bisa sekolah sampai mereka menjadi terpelajar dan punya pilihan yang lebih luas di masa depan. Satu keluarga yang berhasil keluar dari kemiskinan, akan memberi teladan ke tetangga-tetangganya. Satu kampung yang berhasil keluar dari kemiskinan, akan menyebarkan semangat ke daerah-daerah lain, dan menginspirasi sebuah bangsa untuk maju bersama.

Ah, kedengarannya ideal sekali, apakah kenyataannya segampang itu? Jawabnya, tentu saja tidak. Kredit mikro bukanlah satu-satunya resep melawan kemiskinan. It is not a silver bullet. Ia juga harus didukung dengan pembangungan di bidang-bidang lain, misalnya pendidikan, infrastruktur, perlindungan hak asasi manusia, dan sebagainya. Namun setidaknya, kredit mikro adalah sebuah resep untuk memberi kesempatan bagi setiap orang untuk hidup layak, dalam prosesnya membina sumber daya manusia lewat kewirausahaan dan juga berpartisipasi dalam memajukan ekonomi. Bagaimanakah implementasinya di dunia nyata? Simak tulisan berikutnya yang membahas lebih lanjut tentang kredit mikro.

Apa Peran Kita?
Di Indonesia, usaha kecil hingga menengah merupakan tulang punggung ekonomi. Namun, di antara para wirausahawan kecil dan menengah ini, hanya segelintir yang mendapat akses ke lembaga keuangan. Menurut Wikipedia (yang bernarasumber dari detikFinance), hanya seperempat alias 13 juta dari total 52 juta wiraswastawan mendapat akses pinjaman. Tentunya pemerintah Indonesia tidak berpangku tangan, ditunjukkan dengan adanya Dinas Koperasi dan UKM yang berkiprah di masing-masing daerah. Terlepas dari kinerja dinas tersebut membina usaha kecil dan menengah, masih banyak orang-orang miskin yang dalam kegelapan tanpa tahu harus memulai dari mana untuk keluar dari kemiskinan. Peran apakah yang akan kita ambil sebagai sesama bangsa Indonesia? Apakah tinggal duduk nyaman menunggu program-program pemerintah berhasil menjamah setiap orang miskin? Atau, sudikah kita mengulurkan tangan untuk ikut membantu? Sudah mantap ataupun masih ragu-ragu, silakan lanjut ke bagian kontribusi yang akan mengulas lebih jauh bagaimana kita bisa menyalurkan bantuan kita, tidak hanya secara finansial, tetapi juga secara intelektual dan sosial.

Dengan teguh bersama, kita bisa memberantas kemiskinan di sekitar kita.